Sekolah Semakin Banyak, Kenapa Nalar Masih Rendah?

oleh : Margaretha Diana
Saya sering ngobrol dengan teman saya mbak Dwi Purwanti perkara anak-anak sekarang banyak yang pintar mengeja tapi tidak pintar membaca, alias sekadar membaca tanpa memahami isi bacaan atau kalimat yg ia baca.
Padahal anak-anak jaman now berkelindan dengan teknologi yang mumpuni, dengan fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik dibanding kami, anak-anak tahun 90an yang hanya punya perpustakaan sebagai benteng terakhir, itupun buku-buku yang tersedia terbatas.
Berapa hari lalu ada anak perempuan berusia 19th, masih kuliah tapi sudah menikah sejak lulus SMU, curhat sambil menangis di grup.
Ia bercerita bahwa bayi yang sudah berusia 5 bulan dikandungannya terkena hidrosephalus.
Hal ini sebenarnya bisa diantisipasi jika saja ia benar-benar membaca panduan yang sudah dishare di grup tentang apa dan bagaimana seluk beluk kehamilan mulai dari usia matang untuk hamil, asupan gizi, cek kesehatan dan segala macamnya.
Dokter sudah menerangkan dengan jelas, salah satu resiko kehamilan dengan organ reproduksi belum sempurna (di bawah 21th) dan kurangnya asupan asam folat bisa menyebabkan penumpukan cairan berlebih di kepala janin, dan terjadilah hidrosephalus.
Anak perempuan ini sebenarnya sudah ditegur dokter karena hampir tiap hari yg dimakan hanya cireng, cilok dan mie, minumnya boba dan minuman kopi kekinian, air putih pun terbatas karna dia ngga suka rasanya, dan ngga “ngidam” makanan lain
Tak ada makanan 4 sehat 5 sempurna yang dimakannya
Apalagi sayur dan buah seperti bayam, alpukat, jeruk, kacang-kacangan, pepaya dan kentang yg mengandung asam folat tinggi
Padahal ia anak jaman now yang berkelindan dengan teknologi dan kemudahan informasi
Kalau toh tidak percaya dengan omongan dokter yang memeriksa, bisa cari second opinion entah lewat online maupun offline
Dan ini ngomongin anak kuliah jew, sekolah dengan jenjang pendidikan tinggi, di usia yg sudah bisa dianggap sebagai young adult
Kok ya nalarnya ngga jalan
Sayang kan, gugel di hp tidak difungsikan dengan maksimal?
Empat bulan terakhir ini ngobrol dengan beberapa guru yang punya keluhan sama, bahkan lebih parah :
“Ada anak yang belum bisa membaca dan menulis dengan benar, saya dikte suruh nulis beberapa kalimat, dimulai dari satu, dia nulis huruf s a t u, alih-alih angka 1. Membedakan arti kata huruf dan angka saja kesulitan, padahal sudah SMP.”
Ini hanya satu contoh dari sekian keluhan lainnya.
Ada banyak orangtua yang sama sekali tidak concern dengan pendidikan anaknya, mereka menganggap pendidikan anak ya tanggung jawab sekolah, bukan tanggung jawab orangtuanya.
Tiap hari nanya ada pr atau tidak, sudah mengerjakan tugas atau belum, lalu menuntut si anak mendapat nilai bagus di sekolah, sudah cukup.
Tapi tidak pernah bertanya tentang bagaimana sosialisasi anak dg teman-temannya, apakah ia menikmati proses belajar mengajar di sekolah, apa saja yg sudah ia pelajari dan mampu ia pahami.
Padahal pendidikan anak tetap menjadi tanggung jawab utama orangtua, sekolah hanya membantu orangtua untuk memberi pelajaran tambahan yg tidak bisa diajarkan oleh orang tua di rumah.
Itu kenapa kurikulum pendidikan sekarang lebih menekankan untuk membentuk karakter anak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
Boleh dibold ya : pendidikan karakter
Tapi sayangnya, di banyak sisi sistem pendidikan kita ini sebenarnya masih alon-alon asal kelakon
Ada banyak faktor yg membuat sistem pendidikan kita perlu dipertanyakan, karna sekolah yg ada sekarang ini justru semakin komersil, tak jauh dari kata bisnis dan kapitalisme
Dan akreditasi A tidak menjadi jaminan bahwa sekolah tersebut berhasil mendidik siswa-siswanya dengan baik
Sebagai contoh,
Ada siswa yang 80% tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar bahkan tidak ikut ujian kenaikan kelas, tetap naik kelas dengan nilai raport minimal 6,5
Siswa ini tetap lulus, bahkan punya nilai ujian akhir sekolah meski ia tidak mengikuti ujian tersebut
Ia sekolah di sekolah negeri, dan bukan sekolah negeri pinggiran pula
Alasan pihak sekolah tidak bisa mengambil tindakan tegas seperti mengeluarkan atau membiarkan anak tersebut tidak naik kelas, karena hal tersebut bakal mempengaruhi akreditasi sekolah
Dan pasti sekolah bakal dapat teguran dari dinas terkait, karena sekolah dianggap gagal mendidik siswanya
Padahal menurut saya, sekolah yang berhasil mendidik siswa-siswanya ya sekolah yang obyektif
Tidak membiarkan siswanya naik kelas atau bahkan meluluskan jika memang tidak bisa memenuhi standard nilai dan kepatutan
Dalam hal ini posisi guru sebagai pengajar seringkali terjepit dengan birokrasi
Mereka yang enggan memberi nilai meski ala kadarnya mau tak mau harus menutup mata hati dan telinga dengan yg namanya obyektifitas
Menyedihkan, iya
Mengecewakan, pastinya
Dengan pondasi seperti itu, wajar rasanya jika peringkat pendidikan negara ini rendah dibandingkan negara lain.
Program for International Student Assessment (PISA) 2022 yang baru-baru ini diumumkan pada 5 Desember 2023, Indonesia berada di peringkat 68 dengan skor; matematika (379), sains (398), dan membaca (371).
Bayangkan, peringkat 68 dari 81 negara yang melibatkan 690 siswa.
Nilai yang keluar tersebut berada di bawah ambang batas nilai rata-rata 400 point, alias setara dengan level 2, jauh sekali dengan mereka-mereka yang berada di level 5 atau 6.
Sebagai contoh untuk bidang matematika, level 2 itu artinya siswa dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi sederhana dapat direpresentasikan secara matematis (misalnya membandingkan total jarak pada dua rute alternatif, atau mengkonversi harga ke dalam mata uang yang berbeda)
Sementara pada level 5 dan 6 ini, siswa sudah mampu memodelkan situasi yang kompleks secara matematis, dan dapat memilih, membandingkan dan mengevaluasi strategi pemecahan masalah yang tepat untuk menghadapinya.
Tapi hasil ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan
Mengingat masih banyaknya kebocoran di bidang pendidikan, serta masih ada saja kasus korupsi di bidang pendidikan. Seperti korupsi dana PIP yang terjadi di Tasikmalaya beberapa waktu lalu, padahal ini baru satu kasus dari 35 dugaan kasus yg sama di daerah lainnya.
Bayangkan, dana untuk pendidikan saja dikorupsi
Padahal alokasi APBN untuk pendidikan di negara ini juga ngga gede2 amat, eh masih dikorupsi pula
Pada akhirnya, mau pakai kurikulum apapun, dan sudah dibantu dengan program apapun, seperti yg terbaru yaitu guru penggerak dan sekolah penggerak, selama sistem pendidikan kita masih bersifat komersil, hanya mengejar kuantitas bukan kualitas, ya yang didapat tetap sama, angka diatas kertas, minus di praktek.
Jadi jangan kaget dengan kesenjangan perilaku generasi jaman now. Dimana yg terbiasa mendapat pendidikan karakter yg baik di rumah, bakal tetap punya pemahaman yg lebih baik di masyarakat, sementara yg terbiasa dibiarkan, ya bakal semau sendiri atau yg lebih dikenal dengan generasi tiktok, yang terbiasa memanggil orangtuanya dengan sebutan elu guwe.
Mungkin memang benar, pada akhirnya common sense selayaknya bunga, yang tidak tumbuh di “kebun” semua orang

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *