Konsep Pendidikan menurut UNESCO

sumber gambar : https://www.impactpool.org/articles/can-your-nationality-help-you-to-secure-a-job-at-unesco-2020

Tulisan berikut merupakan nukilan sebagian kecil dari Webinar yang diselenggarakan oleh Dewan Profesor Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Tema yang diangkat adalah “Unesco’s Concept for The Future Education”. Dipandu langsung oleh Profesor Agus Rubiyanto.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) merupakan badan khusus Persyarikatan Bangsa-bangsa yang menangani pendidikan, ilmu pengetahuan dan keamanan. Tujuannya mendukung perdamaian dan keamanan. Unesco didirikan pada tahun 1945, berkedudukan di Paris, Perancis.

Konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Unesco ada dua macam yaitu Faure dan Delors. Faure lebih dikenal dengan Learaning to be, belajar untuk menjadi atau belajar untuk berkembang. Konsep ini ditelurkan pada tahun 1972, setelah berakhirnya masa perang kolonial. Di sisi lain, negara sangat membutuhkan tenaga trampil.

Mensikapi permintaan negara-negara yang sedang berjuang membangun pendidikan dan peradaban, unesco menawarkan dua buah konsep pendidikan yaitu, life long education dan learning society. Prinsip lifelong education adalah belajar sepanjang hayat. Dalam literatur Islam dikenal dengan belajar dari ayunan sampai ke liang lahat.

Seorang Albert Einstein pernah mengatakan ,”Education is what remains after one has forgotten what one has learned in school.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan adalah hal yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang telah dipelajari saat di sekolah. Ada kemungkinan, seseorang akan mengerti dan paham, hanya pada saat di bangku sekolah. Selebihnya jarang dilupakan. Kondisi ini tidak sejalan dengan belajar sepanjang hayat. Oleh karenanya, pola seperti ini harus diubah, bahwa setiap saat harus dalam kondisi belajar.

Setelah memiliki pola belajar sepanjang masa, maka disambung dengan learning society , membentuk masyarakat belajar. Memberdayakan peran masyarakat dan keluarga dalam bidang pendidikan, sering dikatakan pendidikan non formal. Di lingkungan keluarga dibangun juga pembelajaran. Mereka mampu memberikan layanan kepada anggota keluarganya sendiri.

Konsep Delors. Muncul pada tahun 1996, dilatarbelakangi oleh berakhirnya perang dingin antara blok barat dan timur. Disisi lain, terjadi arus globalisasi secara massif. Menghadapi perubahan kondisi dunia yang semakin beragam, Unesco memberi konsep pendidikan student centered learning (SCL). Dunia pendidikan diarahkan pada satu pendekatan pembelajaran siswa atau mahasiswa yang aktif. Guru atau dosen hanya berperan sebagai fasilitator.

SCL dapat terlaksana dengan maksimal bila pengajar menerapkan tiga langkah. Pertama, berpikir sebagai pembelajar. Artinya, guru atau dosen dituntut untuk terus belajar dan melakukan inovasi. Kedua, memanfaatkan sumber belajar yang beragam. Internet sangat membantu dalam menemukan sumber-sumber belajar. Perkembangan aplikasi gadget juga turut serta membantu ketrampilan dalam sharing pengetahuan. Ketiga, meaningful learning atau belajar bermakna. Belajar tidak harus menghafal konsep. Belajar bermakna lebih lebih mengutamakan menghubungkan antar teori, sehingga siswa mampu menemukan sebuah kesimpulan baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas