Membuka Sekolah di Masa Pandemi

Pemerintah berencana membuka sekolah kembali secara massal mulai awal tahun ajaran 2021/2022 pada Juli mendatang. Ini dilakukan seiring penurunan kasus Covid-19 serta pelaksanaan program vaksinasi untuk guru dan tenaga kependidikan.

Sejumlah daerah mulai bersiap membuka sekolah dengan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah. Bahkan, ada daerah yang menargetkan memulai sekolah tatap muka pada April 2021 dan karena itu menargetkan vaksinasi untuk guru serta tenaga kependidikan selesai pada Maret (Kompas, 9/3/2021).

Meski mendukung program vaksinasi Covid-19, kalangan guru berharap pemerintah tidak menjadikan program ini sebagai dasar untuk membuka sekolah kembali (Kompas, 18/3/2021). Kekebalan kelompok (herd immunity) di lingkungan sekolah tak akan terbentuk hanya karena guru dan tenaga kependidikan divaksinasi. Siswa yang jumlahnya 10 kali lipat jumlah guru belum divaksinasi.

Membuka sekolah di masa pandemi memang bukan soal kapan sekolah dibuka, melainkan bagaimana sekolah dibuka dengan aman. Pandemi Covid-19 telah mengubah cara kita berinteraksi, juga mengubah metode pendidikan secara drastis. Sekalipun pandemi dapat diatasi, kondisi tidak akan bisa pulih sepenuhnya seperti sebelum pandemi.

Surat kesepakatan bersama empat menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 di masa pandemi telah memberikan acuan teknis bagaimana seharusnya membuka sekolah di masa pandemi. Mulai dari menyediakan infrastruktur kesehatan hingga kepatuhan melaksanakan protokol kesehatan untuk adaptasi kebiasaan baru.

Hingga kini, masih banyak sekolah yang belum memenuhi persyaratan tersebut. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang kesiapan belajar menunjukkan, baru 280.372 atau 52,44 persen sekolah yang mengisi daftar kesiapan proses belajar mengajar di masa pandemi, itu pun baru sekitar 10 persen yang siap.

Namun, persiapan teknis terkait pelaksanaan protokol kesehatan saja tidak cukup. Sekolah juga harus menyiapkan metode pembelajaran yang akan diterapkan. Karena sekolah tidak bisa dibuka secara penuh, sekolah tatap muka dilakukan dengan sistem sif, pembelajaran campuran menjadi solusi. Meski belum efektif, penggunaan teknologi untuk pendidikan yang tumbuh pesat selama pandemi tetap menjadi kebutuhan.

Tantangan bagi sekolah dan guru untuk merancang serta memberikan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh (PJJ), secara daring ataupun dengan pemberian tugas, secara simultan. Rencana pembelajaran tersebut juga mencakup upaya untuk membantu siswa yang tertinggal selama PJJ karena sejumlah hal.

Penutupan sekolah telah berdampak pada kehilangan pembelajaran (learning loss), kemiskinan belajar (learning poverty), bahkan anak putus sekolah, terutama pada siswa miskin dan siswa yang terkendala PJJ. Tanpa persiapan-persiapan tersebut, pembukaan sekolah kembali tidak akan dapat mencegah kerugian yang lebih besar lagi akibat penutupan sekolah dan tidak akan memperbaiki kerugian pembelajaran selama pandemi.

Membuka sekolah kembali berarti sekolah harus siap dibuka dengan aman dan efektif, demikian pula pemerintah harus siap memperluas akses teknologi digital agar guru dan siswa dapat memaksimalkan penggunaan teknologi untuk pendidikan. Saat ini, 12.548 desa/kelurahan belum terjangkau layanan internet 4G dan belum semua siswa memiliki gawai.

Sumber link : https://www.kompas.id/baca/opini/2021/03/19/membuka-sekolah-di-masa-pandemi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas