Menjadi Guru Produktif Saat Pandemi

sumber gambar : arsip pak Suwodo

oleh : Drs. Suwodo

Pandemi COVID-19 di Indonesia merupakan bagian dari pandemi penyakit koronavirus 2019 (COVID-19) yang sedang berlangsung di seluruh dunia. Pandemi sudah menyebar ke 34 provinsi dengan DKI JakartaJawa Timur dan Jawa Barat sebagai provinsi paling terpapar virus corona di Indonesia. Sampai tanggal 26 Oktober 2020, Indonesia telah melaporkan 392.934 kasus positif menempati peringkat kedua terbanyak di Asia Tenggara setelah Filipina.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi_COVID-19_di_Indonesia).

Pandemi COVID-19 di Indonesia mengakibatkan dampak positif dan negative dalam berbagai bidang kehidupan baik ekonomi, sosial, budaya dan Pendidikan. Dampak negative yang dirasakan dalam bidang Pendidikan adalah di rumahkan belajar siswa selama hampir 7 bulan sehingga antara Guru dan Siswa tidak bisa bertatap muka secara fisik. Namun di balik itu ada dampak positif yang dirasakan dalam dunia Pendidikan khususnya para Guru yaitu bertambahnya keahlian para Guru dalam pembelajaran. Saya sendiri bisa menghasilkan video pembelajaran yang sudah terupload di youtube lebih dari 25 video pembelajaran https://studio.youtube.com/channel/UChBXNQLNm_a9vMUisXF4k4w/editing/images. Sebelum mengupload video di youtube tentu diawali dengan membuat materi power point, mengedit video, serta mengkombinasikan pembelajaran interaktif dengan googlemeet, zoom. Dengan demikian Pandemi ini membuat Guru-guru termasuk saya menjadi lebih produktif.

Jika saya perhatikan kepada Guru-guru dalam menyiapkan pembelajaran, semangatnya sangat luar biasa. Hal ini sudah menjadi tuntutan seorang Guru di masa pandemi, agar materi pembelajaran bisa tersampaikan kepada siswa dengan segala keterbatasan yang ada. Guru seakan berlomba menjadikan dirinya Guru terbaik di hadapan Siswa dengan memanfaatkan teknologi TI. Berbagai seminar, Diklatpun diikuti oleh para Guru yang diselenggarakan dari Lembaga-lembaga Pendidikan untuk membantu peningkatan kemampuan Guru. Tidak hannya mengikuti diklat atau seminar yang diselenggarakan oleh Lembaga-lembaga Pendidikan, namun Guru-guru juga mengikuti belajar secara mandiri melalui channel Youtube, sehingga tidak sedikit Guru-guru yang trampil dalam pengelolaan kelas seperti pembuatan soal dan presensi di googleform, mengelola kelas dengan Google classroom, menyajikan pembelajaran dengan video baik yang dishare melalui google drive maupun di upload melalui youtube.

Di balik gegap gempita para Guru dalam menyiapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara professional dengan memanfaatkan TI, tidak sedikit keluhan yang ditujukan kepada Guru baik yang berasal dari Siswa maupun Orang Tua Siswa. Jika Guru sering menyampaikan pembelajaran menggunakan video youtube, Sebagian orang tua protes tidak sanggup menyediakan fasilitas anaknya berupa quota untuk bisa mengakses video di yotube tersebut. Ketidak mampuan orang tua siswa dalam menyediakan quota internet kadang membuat semangat Guru dalam berkarya pembuatan video menjadi menurun, karena untuk membuat sebuah video yang di upload di youtube membutuhkan proses waktu yang yang panjang, membutuhkan keahlian sementara minat peserta didik untuk menontonnya masih rendah. Suatu saat  penulis meminta agar peserta didik yang menonton video di Youtube menjadi banyak, dengan cara memberikan kolom komentar bahwa saya peserta didik bernama Fulan telah melihat video dan telah memahaminya. Namun banyak orang tua berfikir Gurunya untuk menambah subscriber.

Dari hasil evaluasi pembelajarn yang saya lakukan hampir rata-rata 10 peserta didik yang tidak bisa ikut pembelajaran secara online baik menggunakan Zoom maupun Googlemeet bahkan Sebagian  Peserta didik sudah marasakan kejenuhan yang luar biasa. Jika kondisi seperti ini terus diperpanjang bisa jadi akan melahirkan kemalasan dan keputusasaan para peserta didik. Kejenuhan peserta didik saya ketahui setelah saya mengingatkan tagihan beberapa peserta didik yang belum mengikuti Penilaian Harian melalui grup orang tua, kemuadian orang tua menceritakan bahwa anaknya sudah tidak mau lagi belajar matematika bahkan memberontak jika dipaksakan. Kondisi seperti ini tentu akan memprihatinkan baik bagi peserta didik maupun orang tua pendamping. Untuk itu Pemerintah perlu melakukan kajian lebih dalam lagi dalam menyikapi PJJ (pembelajaran jarak jauh).

Pada Bulan Agustus 2020 lalu, Wakil wali Kota Yogyakarta Bersama Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta  melakukan monitoring PJJ di SMP Negeri 9 Yogyakarta untuk  mendapatkan keluhan dan hambatan-hambatan selama PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Harapan Guru dan dan para Siswa adalah agar pembalajaran dengan tatap muka segera bisa terlaksana, sehingga semangat anak-anak belajar bisa bangkit kembali. Hal ini ditandai dengan bantuan belanja wastafel dan belanja Thermal Gun dari  Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta ke sejumlah Sekolah Negeri dari TK, SD dan SMK berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta nomor:188/1083. Berbagai persiapan Sekolah di SMP Negeri 9 Yogyakarta dalam untuk menyelenggarakan pembelajaran secara tatap muka telah dan sedang diupayakan. Berbagai washtafel baik di lantai bawah dan atas sedang dalam pengerjaan,  Semoga harapan Guru dan Siswa pembelajaran tatap muka di Sekolah segera bisa dimulai akan segera terwujud, aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas