Sekolah Daring dan Gerbang Awal Disrupsi Pendidikan

oleh: Fikri Wildan Nasution, S.Pd.
Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sejak diterbitkannya SE Mendikbud RI Nomor 3 Tahun 2020 tentang PencegahaCovid-19pada Satuan Pendidikan dan SE Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran Daring dan Bekerja dari Rumah, terjadi perubahan besar pada sistem pembelajaran di Indonesia. Semula didominasi tatap muka, saat ini digantikan dengan pembelajaran dalam jaringan (daring).

Perubahan tersebut sudah memasuki bulan ketiga, artinya dalam hitungan hari sudah memasuki hari ke-70 (terhitung tanggal 30 Mei 2020). Masyarakat Indonesia pun sudah mulai terbiasa dengan sekolah online/daring tersebut. Konon, dalam proses pembiasaan, manusia hanya butuh melakukan aktivitas yang ingin dibiasakan secara berturut-turut dan konsisten minimal 21 hari.
Pembelajaran daring secara tidak langsung menuntut sekolah dan siswa untuk beradaptasi dengan teknologi. Tidak jarang permasalahan muncul, mulai dari keterbatasan guru dalam menyampaikan materi, mahalnya biaya data internet, hingga sinyal yang sulit di berbagai daerah.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan sekolah daring, ada sebuah kebiasaan baru yang berjalan di masyarakat. Kebiasaan baru tersebut akan membuat pendidikan di Indonesia berjalan ke arah disrupsi.

Disrupsi pendidikan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti ‘tercabut dari akarnya’. Secara sederhana, disrupsi dapat dimaknai dengan terobosan baru, inovasi, gagasan, dan langkah yang mengubah suatu hal yang terjadi sebelumnya. Contoh yang sangat dirasakan masyarakat saat ini adalah disrupsi moda layanan transportasi, yaitu kehadiran trasportasi online bernamGrab dan Gojek.

Kedua platform tersebut mendisrupsi sarana transportasi umum yang telah eksis sebelumnya, mulai dari ojek biasa, taksi, hingga bus. Pengguna angkutan umum memilih memanfaatkan platform tersebut karena lebih efektif, efisien, serta lebih hemat.

Pendidikan di waktu yang akan datang akan mengalami perubahan akibat disrupsi. Profesor Clayton Christensen, pencetus teori disrupsi, memprediksikan bahwa dalam 10-15 tahun ke depan, 50% universitas di Amerika Serikat akan mengalami kebangkrutan. Hal ini terjadi akibat disrupsi dan inovasi baru dunia pendidikan, seperti online learning dan MOOCs (Massive Online Open Courses).

Tidak terkecuali pendidikan di Indonesia, hal yang tidak dapat ditampik adalah hadirnya platform online learning, mulai Ruang Guru, Zenius, hingga video tutorial YouTube. Pendidikan di Indonesia hanya tinggal menunggu titik kritisnya untuk terdisrupsi. Institusi pendidikan merupakan hal yang sangat stagnan, maka tak heran jika proses pendidikan saat ini sama dengan berabad-abad yang lalu.

Gelombang sekolah daring yang diakibatkan Covid-19 ini seakan menuntut dunia pendidikan mempercepat memasuki gerbang awal disrupsi pendidikan. Mengutip pendapat Yuswohady dalam bukunya Millennials Kill Everything, dunia pendidikan akan mengalami tiga gelombang disrupsi yang membuat sistem yang dibangun sebelumnya menjadi usang dan tidak relevan lagi. Tiga disrupsi tersebut adalah disrupsi digital (digital disruption), disrupsi millenial (millenial disruption), dan disrupsi kompetensi (competence disruption).

Peran generasi milenial

Saat ini hingga tahun 2024, Indonesia mengalami puncak bonus demografi. Indonesia akan mengalami lonjakan penduduk dengan usia produktif pada tahun tersebut.

Milenial memiliki karakter berbeda dengan generasi pendahulunya atau yang lahir sebelum tahun 1980. Dunia pendidikan yang sedang berjalan di Indonesia, didominasi oleh milenial, bahkan neo-milenial. Cara belajar kaum milenial adaptif terhadap teknologi, akan berpengaruh dalam dunia pendidikan.

Generasi milenial merupakan pembelajar aktif. Mereka selalu terhubung secara online, pembelajar mandiri, sangat melek data dan visual. Generasi ini piawai dalam memproses, mengurasi, dan menganalisis informasi secara online ketimbang di perpustakaan. Hal tersebut sering tidak sejalan dengan kemampuan guru.

Dengan kondisi demikian, pada saatnya nanti pedidikan akan mendapatkan pendekatan pembelajaran baru yang lebih terbuka, kolaboratif, personal, ekperensial, dan sosial. Dengan terdisrupsinya pendidikan tersebut, barangkali ruang kelas tidak terlalu dibutuhkan lagi, ia hanya menjadi periferal. Guru berperan sebagai mentor, motivator, dan model. Proses pembelajaran akan dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan menggunakan platform apa saja. (*)

Sumber link: https://suyanto.id/sekolah-daring-dan-gerbang-awal-disrupsi-pendidikan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas