Kompetisi Nalar

Olympiade awalnya adalah festival keagamaan dan atletik yang diadakan setiap empat tahun di tempat suci Zeus di Olympia, Yunani. Kompetisi adalah di antara perwakilan dari beberapa negara-kota dan kerajaan Yunani Kuno. Permainan ini terutama menampilkan olahraga atletik tetapi juga olahraga seperti gulat dan perlombaan, balap kuda dan kereta kuda.

Pada masa Yunani, banyak daerah-daerah terlibat konflik, sehingga sangat perlu dilaksanakan kompetisi dalam rasa kebersamaan. Semangat kegotong royongan dalam mengemban persatuan Negara diujudkan dalam lomba yang bersifat fisik, seperti gulat, memanah dan lain-lain.

Karena pertandingan bersifat kompetisi, maka perlu adanya sang juara. Penentuan prestasi lebih didasarkan pada kemampuan fisik manusia. Siapa terkuat, dialah kampiumnya.

Dalam perjalanan, olympiade tetap dipertahankan. Bahkan cabang olah raga yang dipertandingkan makin banyak dan beragam. Hingga kini, olah raga yang dikompetisikan setiap empat haun sekali sudah mencapai puluhan macam. Pesertanya juga semakin bertambah.

Nama olympiade, ternyata sangat mujarab untuk hal-hal yang besifat kompetisi. Tak ubahnya olympiade pada bidang pengetahuan khususnya matematika. Arena lombapun berpindah. Semula di lapangan atau stadion, sekarang berpindah ke ruang-ruang kelas. Semula yang diandalkan adalah fisik, sekarang berpindah ke otak.

Olympiade Matematika yang pertama kali dilaksanakan di Rumania pada tahun 1959. Sebelum berlaga di olympiade internasional, peserta harus berjibaku terlebih dahulu di negaranya masing-masing. Peserta datang dari berbagai macam daerah. Siswa yang terpilih berhak maju dengan menyandang utusan daerah.

MGMP Matematika Kota Yogyakarta berikhtiar untuk mengirim pesertanya dalam area kompetisi Olympiade Sains Nasional (OSN) tahun 2020. Tahun sebelumnya juga mengirim utusan dengan berbagai macam predikat. Berhasil dan gagal. Dua situasi yang saling berkebalikan seperti mata uang. Dua kondisi yang kontradiksi, persis seperti menjalani kehidupan. Berhasil atau gagal.

Sebelum siswa maju ke area perlombaan, guru matematika berkumpul untuk diberi bimbingan oleh sang ahli. Beliau adalah Bapak Suyanto, S.Pd. Seorang guru matematika di SMA Negeri 8 Yogyakarta. Beliau sudah malang melintang dalam dunia perkompetisian khususnya olympiade. Pembimbing siswa ataupun guru.

Mereka diberi materi jenis-jenis soal olympiade, yang tentunya sangat berbeda dengan materi yang biasanya diajarkan di kelas.

Bila merujuk pada taksonomi Bloom, tingkat kesulitannya pada tahap empat ke atas. Sehingga cara berfikirnyapun lain. Tingkat analisanya komplek dan menuntut berfikir tinggi. Orang bilang jenis soalnya sudah mencapai tingkat perguruan tinggi. Tapi, menurut pak Yanto (demikian panggilanya) tidak. Bahkan soalnya sederhana. Tak perlu banyak teori.

Liku-liku dalam membimbing siswa juga banyak ditemui hambatan. Meskipun tingkat berfikirnya tinggi, namun kalau jam terbang dalam menyelesaikan soal-soal yang sejenis kurang, tetap menemui masalah. Karena matematika tidak hanya soal berfikir dan logika. Ada juga sisi lain yaitu kebiasaan menjawab soal. Kontinuitas.

Saat ini, problem yang disajikan kepada siswa semakin beragam dan kompleks. Permasalahan ini bukan karena keikutsertaannya dalam olympiade, tapi lebih banyak dipengaruhi oleh tuntutan hasil PISA. Indonesia yang demikian besar penduduk dan sumber daya alamnya masih kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Philipina.

Tinggalkan Balasan